<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>metode &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/metode/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "metode"</description>
	<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 17:09:18 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Masuk BoZzZZzz]]></title>
<link>http://haydar85.wordpress.com/?p=243</link>
<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 01:41:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lukman</dc:creator>
<guid>http://haydar85.wordpress.com/?p=243</guid>
<description><![CDATA[
View shoutbox
Free chat widget @ ShoutMix

]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!-- Begin ShoutMix - http://www.shoutmix.com --></p>
<p><a href="http://www4.shoutmix.com/?haydar198">View shoutbox</a></p>
<p><a href="http://www.shoutmix.com" title="Get your own free shoutbox chat widget at ShoutMix!">Free chat widget @ ShoutMix</a><br />
<!-- End ShoutMix --></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Koneksi Internet via CDMA]]></title>
<link>http://haydar85.wordpress.com/?p=235</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 11:16:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lukman</dc:creator>
<guid>http://haydar85.wordpress.com/?p=235</guid>
<description><![CDATA[Teknologi internet tidak saja merambah                  pada kecepatan, tetapi mulai di sajikan pada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="art" align="left">Teknologi internet tidak saja merambah                  pada kecepatan, tetapi mulai di sajikan pada teknologi handphone.                  Pada artikel kali ini dibahas sedikit mengenai kecepatan koneksi                  dengan CDMA dan kemudahan menginstall handphone menjadi sebuah                  modem PC.</p>
<p class="art" align="left">Koneksi CDMA pada saat ini dapat mencapai                  230Kbps untuk koneksi dan kecepatan download 15KB/s (153Kbps).                  Untuk perbandingan, kecepatan CDMA telah mencapai 3X sistem koneksi                  dial-up dan sudah separuh dari sistem koneksi cable modem. Memang                  belum cepat, tetapi cukup lumayan bila anda memiliki area yang                  tidak terjangkau oleh cable modem atau ADSL modem. Solusi ini                  setidaknya dapat menyajikan sebuah koneksi internet dimana saja                  dan kapan saja yang cukup mengunakan handphone untuk dijadikan                  sebuah modem bersama sebuah PC.</p>
<p class="art" align="left">Tahapan untuk menginstall dengan Handphone                  CDMA :</p>
<ol>
<li class="art">Persiapan untuk membuat Com Port, komunikasi modem                    dilakukan melalui Com Port dan digunakan cable data untuk difungsikan                    sebagai Com Port. Caranya dengan merubah fungsi dari USB Cable                    data menjadi sebuah COM pada PC</li>
<li class="art"> Mengenal Handphone sebagai Modem. Setting driver                    dari install driver setelah dibukanya Com Port maka software                    WinXP dapat mengenal Handphone sebagai Modem</li>
<li class="art">Proses untuk koneksi Network pada Windows XP,                    setelah COM port dan Modem selesai di Install, proses terakhir                    adalah memasukan fungsi koneksi dari Modem sebagai koneksi ke                    Internet.</li>
</ol>
<p><strong><span class="abutton">Perlengkapan untuk koneksi Internet                  dengan Handphone CDMA</span></strong></p>
<p class="art" align="left">Untuk perlengkapan, pada percobaan ini                  digunakan:</p>
<ul>
<li class="art">Prolific GW-DKU-001- Compatible Cable data DKU5                    Nokia</li>
<li class="art">Nokia CDMA 6585</li>
<li class="art">Starone CDMA Prepaid</li>
</ul>
<p class="art" align="left">Untuk perlengkapan PC:</p>
<ul>
<li class="art"><span class="art">Pentium P4 2.4C @ 3.3Ghz</span></li>
<li class="art"><span class="art">Corsair memory 1GB TwinX PC320</span></li>
<li class="art"><span class="art">Asus P4C800-D</span></li>
<li class="art">Gigabyte Radeon 9800 Pro</li>
<li class="art"><span class="art">Seagate 120GB SATA Harddisk</span></li>
<li class="art">USB port internet ICH5</li>
<li class="art">Flatron L1710B LCD monitor</li>
<li class="art">Zalman ZM-400B APS</li>
</ul>
<p class="art" align="center"><a href="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma1h.jpg" target="_blank"><img src="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma1.jpg" border="0" alt="" width="320" height="205" /></a></p>
<p class="art" align="left">Fungsi Cable data selain menjadi simulasi                  Com Port, juga difungsikan sebagai fungsi tranfer data dari handphone                  ke PC. Sedangkan modem difungsikan sebagai modem pada koneksi                  internet dari PC. Pada gambar dibawah ini adalah cara pemasangan                  Cable Data pada bagian bawah handphone dan dihubungkan pada USB                  port.</p>
<p><strong><span class="abutton">Tahap pertama : menginstalll COM port                  dari Prolific data cable</span><em><br />
</em></strong></p>
<p class="art" align="left">Seperti pada PC, bila sebuah perangkat                  modem akan melalui port atau USB port. Untuk sistem CDMA melalui                  cable data juga perlu diaktifkan Com port yang ditanamkan pada                  USB Cable Data.</p>
<p class="art" align="left">Tahap awal dibawah ini adalah cara menginstall                  driver USB yang disimulasikan sebagai Com port untuk menghubungkan                  koneksi PC ke Handphone.</p>
<p class="art" align="left">Kami mengunakan Cable Data Prolific                  , lebih mudah menginstall dibandingkan original Cable Data dari                  DKU-5 yang memerlukan driver ukuranbesar. Anda cukup memasangkan                  Cable Data Prolific dan Windows akan meminta driver USB port untuk                  mengenal Cable Data Prolific seperti pada gambar dibawah ini.</p>
<p class="art" align="left">Setelah memasukan CD dan menginstall,                  maka akan tampil Com port baru pada Device manager. Artinya installasi                  dari driver Com port Prolific sudah aktif dan siap digunakan untuk                  menghubungkan handphone ke USB port.</p>
<p class="art" align="left"><span style="color:#cc0000;">Pada tahap ini                  anda telah selesai membuat Com port baru melalui Cable Data yang                  nantinya Com Port akan digunakan sebagai penghubung dari Handphone                  sebagai modem dan Com port untuk koneksi antara PC dan Modem /                  Handphone. Cable data merubah fungsi USB port menjadi Com Port                  pada sistem operasi</span></p>
<p class="art" align="left"><strong><span class="abutton">Tahap kedua                  : Menginstall Modem untuk Handphone melalui Cable Data</span><br />
</strong></p>
<p class="art" align="left">Selanjutnya memberikan pengenalan untuk                  pemakaian Com port bagi modem, click Phone and modem pada control                  panel</p>
<p class="art" align="left">Maka akan tampil pilihan seperti pada                  gambar dibawah ini</p>
<p class="art" align="left">Masuk ke bagian modem. Pada gambar dibawah                  terdapat sebuah modem dengan chip-set untuk dial-up dan tidak                  ada hubunganya dengan artikel ini. Untuk penambahan modem yang                  difungsikan pada Handphone, anda cukup memilih ADD dan jangan                  lupa click untuk Don't Detect My modem. Karena modem harus di                  install driver secara manual</p>
<p class="art" align="left">Masuk kebagian pencarian nama modem,                  click bagian Have Disk untuk menginstall driver modem baru pada                  Handphone</p>
<p class="art" align="left">Selanjutnya masukan driver handphone                  anda, sistem driver ini tidak standard. Dan anda dapat mendownload                  driver dari masing masing produk handphone yang anda gunakan</p>
<p class="art" align="center"><img src="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma8.jpg" border="0" alt="" width="500" height="499" /></p>
<p class="art" align="left">Bila anda mengunakan Nokia, maka akan                  ditampilkan 3 pilihan. Untuk koneksi Internet anda cukup mengclick                  bagian 3G sebagai driver modem CDMA anda</p>
<p class="art" align="center"><img src="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma9.jpg" border="0" alt="" width="503" height="382" /></p>
<p class="art" align="left">Selanjutnya memberikan port untuk modem                  anda yang telah di Install, pada gambar dibawah ini memperlihatkan                  pilihan Port 6 untuk Prolific cable data yang akan dikenal oleh                  System operasi Windows untuk mengaktifkan Com 6 bagi modem Handphone</p>
<p class="art" align="left">Selesai proses ini anda telah memiliki                  2 modem, pertama modem dial up dari Lucent dan kedua modem Nokia                  melalui Handphone dan Com port dari koneksi Cable Data</p>
<p class="art" align="left"><span style="color:#ff0000;">Pada tahap ini                  anda telah selesai menginstall Com port dari sistem operasi Windows                  dan mengenal modem anda untuk digunakan sebagai koneksi ke handphone.</span></p>
<p class="art" align="left"><strong><span class="abutton">Tahap ketiga                  : Menginstal koneksi Internet untuk Window untuk CDMA modem</span><em><br />
</em></strong></p>
<p class="art" align="left">Seperti anda mengunakan modem dial up                  atau ethernet broadband, masing masing hubungan network juga diperlukan                  jenis koneksi dan jenis yang anda butuhkan</p>
<p class="art" align="left">Untuk koneksi ke Internet, cukup mengunakan                  Wizard dari Windows XP. Anda masuk kebagian Control Panel dan                  click Network Connection</p>
<p class="art" align="left">Anda cukup mengclick bagian Create New                  Connection pada sub menu Network Connection</p>
<p class="art" align="left">Selanjutnya akan muncul Wizard Connection,                  dan click Next</p>
<p class="art" align="left">Pilih koneksi langsung ke Internet</p>
<p class="art" align="left">Dan masukan setup untuk koneksi manual</p>
<p class="art" align="left">Pilih dial-up, karena mengunakan sistem                  Handphone seperti telepon dan anda perlu melakukan dial nomor                  manual untuk koneksi melalui handphone CDMA</p>
<p class="art" align="center">
<p class="art" align="left">Pilih modem yang telah anda install                  seperti gambar dibawah ini untuk hubungan internet melalui Handphone                  CDMA</p>
<p class="art" align="center">
<p class="art" align="left">Masukan nama koneksi, misalnya Starone                  CDMA seperti pada gambar dibawah ini</p>
<p class="art" align="center"><img src="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma19.jpg" border="0" alt="" width="435" height="231" /></p>
<p class="art" align="left">Masukan nomor untuk hubungan internet                  ke Provider, untuk Starone mengunakan nomor 777</p>
<p class="art" align="left">Proses hampir berakhir, masukan nama                  login dari Provider, pada Starone diminta untuk nama login : starone                  dan password : indosat. Masing masing login dan password berbeda                  pada setiap provider</p>
<p class="art" align="left">Selesai pada tahap untuk membuat icon                  modem pada Dekstop Windows dan modem handphone anda siap dihubungkan                  ke internet provider</p>
<p class="art" align="left">Untuk melalukan koneksi anda cukup mengclick                  koneksi yang telah anda buat seperti mengunakan koneksi dial-up</p>
<p class="art" align="left">Bila setting seluruhnya benar, maka                  koneksi anda akan terhubung langsung ke provider CDMA. Pada gambar                  bawah terlihat kecepatan koneksi 230Kbps.</p>
<p><strong><span class="abutton">Tahap keempat                  : Informasi kecepatan koneksi dengan teknologi CDMA</span><em><br />
</em></strong></p>
<p class="art" align="left">Untuk kecepatan , koneksi internet melalui                  CDMA akan mencapai 230Kbps atau sekitar lebih dari 15KB/s. Dan                  kecepatan ini setara dengan kecepatan 3X dari koneksi dial up                  atau hampir sepertiga kecepatan koneksi cable modem. Pada gambar                  bawah capture ketika handphone sedang dihubungkan ke provider.                  Pada test melalukan download, kecepatan mencapai 12-15KB/s lebih,                  tentunya kecepatan ini tergantung dimana anda membuka sebuah website                  dan lokasi server. Kelemahan pada internet melalui handphone CDMA                  masih memiliki kelemahan, dimana kecepatan upload lebih kecil                  dibandingkan kecepatan download</p>
<p class="art" align="center"><a href="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma25h.jpg" target="_blank"><img src="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma25.jpg" border="0" alt="" width="320" height="295" /></a></p>
<p class="art" align="left">Untuk ping delay, koneksi sistem CDMA                  yang diuji cukup cepat dan tidak banyak berbeda dengan koneksi                  melalui Dial-up telepon biasa.</p>
<p class="art" align="center"><img src="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma26.jpg" border="0" alt="" width="450" height="175" /></p>
<p class="art" align="left">Dibawah ini adalah hasil koneksi dan                  kestabilan ketika mendownload mengunakan Handphone CDMA melalui                  sistem operasi Windows XP</p>
<p class="art" align="center"><a href="http://www.obengware.com/tips/2004/connectioninternetviacdma27h.jpg" target="_blank"><br />
</a></p>
<p class="art" align="left"><strong><span class="abutton">Result : Kemajuan                  teknologi Internet untuk koneksi CDMA</span><em><br />
</em></strong></p>
<p class="art" align="left">Setidaknya, kemampuan koneksi yang lebih                  cepat dan dapat digunakan secara mobile akan memudahkan pemakai                  Internet di Indonesia. Bila dikatakan teknologi CDMA untuk koneksi                  Internet untuk kegiatan umum seperti browsing, email tentunya                  sudah memadai, tetapi dikatakan cepat mungkin belum cukup. Adanya                  teknologi ini akan lebih menghemat biaya, khususnya penawaran                  tarif flat untuk koneksi bulanan yang lebih murah dibandingkan                  mengunakan sistem Dial-up konvensional dengan tarif selangit serta                  lebih lambat bahkan sangat buruk pada suatu area tertentu.</p>
<p class="art" align="left">Tetapi mengunakan handphone CDMA untuk                  koneksi Internet tidak lepas dari kendala lain walaupun tidak                  terlalu signifikan, kekuatan koneksi internet tidak lagi tergantung                  pada baik buruk nya jaringan, melainkan baik tidaknya cuaca serta                  kekuatan baterai handphone anda.</p>
<p class="art" align="left">Note: Koneksi internet dengan CDMA memerlukan                  informasi setup dari masing masing provider serta jenis produk                  dan driver. Artikel ini sedikitnya dapat menjelaskan bahwa koneksi                  CDMA menjadi solusi baru dengan kecepatan lebih baik dibandingkan                  Dial-up, dan kemudahan mengunakan koneksi melalui CDMA untuk Internet.</p>
<p class="art" align="left">Sebelum mengunakan CDMA untuk koneksi                  internet, sebaiknya melakukan evaluasi dimana anda berada. Dan                  periksa kekuatan signal dari BTS provider. Teknologi CDMA memiliki                  3 pilihan yaitu signal Digital, Analog dan 1X. Untuk internet                  dibutuhkan koneksi 1X dan akan terlihat pada display handphone                  anda</p>
<p class="art" align="left">Sistem                  koneksi internet via handphone juga dapat dilakukan dengan OS                  Win98. Dengan persyaratan, koneksi cable data harus memiliki driver                  bagi Win98 agar mendapat COM port untuk penghubung ke Handphone.                  Dan intall modem handphone sama seperti melakukan install modem                  dialup. Kecepatan 15KB/s tidak dipengaruhi oleh jenis versi USB                  1.1 pada Windows 98</p>
<p class="art" align="left">Kemampuan Handphone memiliki kemampuan                  terbatas karena mengunakan sistem transmisi, dan kemungkinan kerusakan                  terjadi pada Handphone dapat terjadi bila dipakai secara berlebihan.</p>
<p>Untuk Nokia 6585, dari laporan pemakai                  hanya mampu bertahan antara 1-2 jam. Dan informasi lain untuk                  kekuatan handphone terbaik dipegang oleh Modotel dengan kemampuan                  transmit 3-4 jam dan ketahanan kestabilan koneks</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Metode Jigsaw]]></title>
<link>http://haydar85.wordpress.com/?p=232</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 10:52:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lukman</dc:creator>
<guid>http://haydar85.wordpress.com/?p=232</guid>
<description><![CDATA[Metode ini akan saya uraikan sedikit, bagaimana teknik menjalankan metode belajar dalam memacu anak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Metode ini akan saya uraikan sedikit, bagaimana teknik menjalankan metode belajar dalam memacu anak dalam prestasi yang baik...</p>
<p>untuk para pengajar, dapat melakukannya sendiri dan tidak berbahaya..hehehe, yang ada hanyalah kemajuan yang pesat pada anak didik anda.</p>
<p>Zigsaw dilakukan berkelompok dan dalam kelompoknya terdiri dari 4 orang anggota. kemudian Guru membagikan pertanyaan soal pada tiap-tiap  kelompoknya dan soal tersebut terdiri dari 4 soal essay. Setelah diberikan soal,  dari empat soal tersebut dibagikan ketiap-tiap anggota kelompoknya.., jika terdiri dari 4 orang anggota maka  setiap anggota mendapatkan masing-masing 1 soal.   Masing-masing soal yang sudah diberikan kepada tiap-tiap anggotanya dikerjakan dengan baik. Jika soal sudah dikerjakan maka kumpulkan soal sesuai dengan nomor soalnya dari tiap kelompok..[soal nomor satu dikumpulkan dengan nomor satu yang lain dari kelompok lain] Setelah dikumpulkan sesuai dengan nomor soalnya, lalu masing-masing anggota mempresentasikan jawabannya.. Dimulai dengan anggota yang mengerjakan soal nomor 1 mempresentasikan jawaban soalnya. Jika sudah dipresentasikan lalu guru memutuskan jawaban mana yang sesuai. Jika sudah diputuskan maka presentasi selanjutnya dengan soal nomor 2, kemudian sama dengan presentasi nomor satu. hingga terselesaikannya nomor terakhir. Kalo sudah selesai, maka jawaban-jawaban tiap soal di kumpulkan lagi sesuai dengan kelompoknya...</p>
<p>begitulah metode zigsaw dilaksanakan mudah-mudahan dapat membantu memajukan kreatifitas guru dalam mengajar..amien.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Segera Hadir ...]]></title>
<link>http://haydar85.wordpress.com/?p=217</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 08:54:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lukman</dc:creator>
<guid>http://haydar85.wordpress.com/?p=217</guid>
<description><![CDATA[Warnet &amp; Games Online
DELINA CENTER
Internet, Games-Online, Futsal, Bimbel, Privat





Akan seg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Warnet &#38; Games Online</strong></span></h1>
<h1 style="text-align:center;"><em><strong>DELINA CENTER</strong></em></h1>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">Internet, Games-Online, Futsal, Bimbel, Privat</span></p>
<h1 style="text-align:center;"><img class="alignnone size-full wp-image-218" src="http://haydar85.wordpress.com/files/2008/08/6.jpg" alt="" width="114" height="116" /></h1>
<h1 style="text-align:center;"><img class="alignnone size-full wp-image-221" src="http://haydar85.wordpress.com/files/2008/08/4.jpg" alt="" width="143" height="107" /></h1>
<h1 style="text-align:center;"><img class="alignnone size-full wp-image-219" src="http://haydar85.wordpress.com/files/2008/08/8.jpg" alt="" width="113" height="116" /></h1>
<h1 style="text-align:center;"><img class="alignnone size-full wp-image-220" src="http://haydar85.wordpress.com/files/2008/08/7.jpg" alt="" width="135" height="107" /></h1>
<h1 style="text-align:center;"><img class="alignnone size-full wp-image-222" src="http://haydar85.wordpress.com/files/2008/08/images1.jpg" alt="" width="135" height="105" /></h1>
<p>Akan segera hadir ...</p>
<p>Internet, Games-Online, Gudang Futsal, Bimbel &#38; Privat</p>
<p>Contact Pearsons:</p>
<p>Lukman (085693164840)</p>
<p>Alamat : Jl. Delman Utama A9/152 Tanah Kusir Jakarta Selatan</p>
<p>Telp/Fax : 021-7291755</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sumber-Sumber Fiqh dan Metode Ijtihad]]></title>
<link>http://alvisidik.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 03:21:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Alvin</dc:creator>
<guid>http://alvisidik.wordpress.com/?p=17</guid>
<description><![CDATA[


Sumber-Sumber Fiqh dan Metode Ijtihad
Sumber-Sumber Fiqh
Dari sejarah fiqh dapat diketahui fiqh m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:8193 0 0 0 64 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} span.MsoEndnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	vertical-align:super;} p.MsoEndnoteText, li.MsoEndnoteText, div.MsoEndnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"Endnote Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} span.EndnoteTextChar 	{mso-style-name:"Endnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Endnote Text";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ALVIN/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ALVIN/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ALVIN/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ALVIN/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1; 	mso-endnote-numbering-style:arabic;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:393695993; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1289794618 137157984 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:590116069; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1399485158 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:629826195; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-39966704 1896935938 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3 	{mso-list-id:708725776; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-31315970 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4 	{mso-list-id:1135483949; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:2043328268 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5 	{mso-list-id:1152408783; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-784032680 2135596436 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6 	{mso-list-id:1188565808; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:388168084 763121814 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-36.0pt;} @list l7 	{mso-list-id:1305312685; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-33015034 -1122978676 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l7:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-language:AR-SA;} @list l8 	{mso-list-id:1786849820; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-465173464 1101006184 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l9 	{mso-list-id:1886604053; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-476517044 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10 	{mso-list-id:1894735096; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1162663918 -1182789618 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l10:level1 	{mso-level-start-at:0; 	mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Arial","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri;} @list l10:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l10:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l10:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l11 	{mso-list-id:2103530174; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-86987022 757890718 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l11:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&#62; &#60;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif";} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Sumber-Sumber Fiqh dan Metode Ijtihad</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;">Sumber-Sumber Fiqh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dari sejarah fiqh dapat diketahui fiqh mempunyai sumber. Sumber asasi fiqh yang disebutkan di atas ada dua, yaitu Al Quran dan Sunnah. Jika tidak ditemukan dalam <em>Al Quran </em>dan <em>Sunnah</em>, maka para Sahabat ahli fiqh melakukan <em>ijtihad dengan ra’yu</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pengertian <em>ijtihad dengan ra’yu </em>dikalangan para sahabat ialah pengerahan maksimal kemampuan untuk membahas hukum Syariat tentang suatu kejadian yang tidak diterangkan hukumnya secara jelas dalam Al Quran dan Sunnah dengan menggunakan akal pikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Kemudian para ahli fiqh dan ushululfiqh meneliti secara lebih rinci maksud ijtihad dengan ra’yu yang sering dilakukan para sahabat. Ternyata ijtihad dengan ra’yu yang mereka lakukan meliputi :</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Menafsirkan nash (teks) Al Quran dan Sunnah, artinya menjelaskan maksud sebuah nash (teks) Al Quran dan Sunnah. Contohnya menafsirkan kata <em>“Kalalah” </em>dalam Al Quran. Allah Ta’ala menyebut kata <em>“Kalalah”</em> dalam dua ayat, di antaranya dalam firman-Nya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.2pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Mereka minta fatwa kepadamu (tentang kalalah). ‘Katakanlah Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah’.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Abu Bakar Ash Shiddiq mengatakan : “Menurut penadapat saya <em>kalalah</em> adalah selain ayah dan anak. Pengertian tersebut adalah berdasarkan <em>ro’yu </em>saya.”<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Metode yang digunakan Abu Bakar Ash Shiddiq dalam menafsirkan kata <em>kalalah</em> tersebut adalah penggunaan kata <em>kalalah </em>dalam bahasa Arab.</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Menetapkan hukum dengan metode <em>maslahat, qiyas, istihsan </em>atau lainnya,<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> seperti <em>sad adz dzari’ah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Akhirnya istilah <em>ra’yu </em>jarang digunakan para ahli fiqh dan ushululfiqh sesudah masa Sahabat, karena mereka telah menelitinya lebih rinci dan lebih suka menggunakan hasil penelitian mereka yang telah mereka tuangkan dalam istilah-istilah yang populer, seperti <em>maslahat, qiyas, istihsan, sad adz dari’ah</em>, dan lain-lain.<a name="_ednref3" href="#_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Semua itu termasuk dalam ra’yu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dengan demikian ra’yu yang diakui dalam fiqh Islam bukanlah kemauan atau hawa nafsu ahli hukum, akan tetapi penelitian hukum yang mempunyai metode tertentu.<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;">Metode ijtihad</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Untuk mengenal metode ra’yu, berikut ini kami jelaskan sebagian metode mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Qiyas</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ketika mujtahid akan mengetahui hukum suatu kejadian tentu ia akan meneliti apakah dalam Al Quran terdapat nash (teks) yang menjelaskan hukumnya? Jika tidak ada, ia meneliti apakah dalam Sunnah terdapat nash (teks) yang menjelaskan hukumnya? Jika tidak ada, ia meneliti apakah terdapat ijma’ yang telah menetapkan hukumnya? Jika tidak ada, ia meneliti apakah ia dapat menetapkan hukumnya dengan qiyas. Arti qiyas ialah memberlakukan hukum yang sudah berlaku sebelumnya pada kejadian baru yang belum jelas hukumnya. Qiyas ini dapat diterapkan apabila antara kejadian yang lama dan yang baru terdapat persamaan dari segi illat (sebab timbul hukumnya).<a name="_ednref5" href="#_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Artinya, qiyas hanya dapat diterapkan pada sesuatu yang mempunyai illat. Misalnya mengqiyaskan padi kepada kurma dari segi wajib mengeluarkan zakatnya, karena persamaan illatnya yaitu sebagai bahan makanan pokok. Illat seperti itu terdapat pada beras. Sebab itu mereka menetapkan bahwa beras wajib dikeluarkan zakatnya, karena persamaan illat dengan kurma.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Bagaimana jika ia tidak menemukan persamaan illat? Bolehkah ia menetapkan hukumnya dengan menggunakan metode <em>maslahah mursalah</em>? Inilah yang akan diuraikan dalam uraian selanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Maslahah Mursalah</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contoh      Maslahah Mursalah</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dalam ilmu Ushululfiqh dikenal sebuah istilah </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">مصالح مرسلة </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span> </span></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(mashalih mursalah) </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">atau </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">استصلاح </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span> </span></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(istishlah)</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">. Untuk memahami maksudnya berikut ini disebutkan tiga contoh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;text-indent:-13.65pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>i.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Munasib (kemaslahatan) yang diakui</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dalam Islam terdapat hukum-hukum yang ditetapkan untuk melindungi agama Islam, jiwa manusia, akal manusia, keturunan manusia dan harta kekayaan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Misalnya jihad dan hukuman mati atas orang yang murtad diterapkan untuk melindungi agama Islam. Qishash ditetapkan untuk melndungi jiwa manusia dari upaya menyakiti dan membunuhnya. Diharamkannya meminum minuman untuk melindungi akal manusia dari mabuk. Sanksi potong tangan atas pencuri, begitu juga ganti rugi atas harta yang diambil dengan cara yang tidak sah untuk melindungi harta manusia dari kesewenang-wenangan orang lain. Diharamkannya zina untuk melindungi keturunan manusia. Diizinkan tidak puasa Ramadhan bagi orang musafir dan sakit untuk memberikan kemudahan bagi orang yang musafir dalam menjalankan ibadah puasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Semua ulama sepakat berpendapat bahwa semua tujuan-tujuan hukum tersebut, yaitu melindungi agama Islam, jiwa manusia, akal manusia, keturunan manusia dan harta kekayaan manusia, dapat dijadikan landasan penetapan hukum, karena penelitian membuktikan bahwa motivasi penetapan hukum-hukum Syariat Islam adalah untuk merealisasikan kemaslahatan bagi manusia atau menghindarkan kesulitan bagi manusia.<a name="_ednref6" href="#_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;text-indent:-13.65pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>ii.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Munasib (kemaslahatan) yang tidak diakui</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Rasulullah Muhammad saw menjelaskan sanksi atas orang yang senggama ketika melakukan puasa Ramadhan ada tiga, yaitu <em>pertama</em>, memerdekakan budak, jika tidak mampu harus puasa dua bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu juga hendaklah memberi makan 60 orang miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Bolehkan sanksi tersebut diatur sedemikian rupa untuk disesuaikan dengan pelanggarnya? Contohnya jika senggama tersebut dilakukan orang kaya tentu ia dapat membayar sanksi pertama yaitu pembebasan budak dengan mudah, sehingga ia dapat melakukan senggama beberapa kali. Bolehkah sanksinya ditukar dengan sanksi yang lebih berat yaitu puasa dua bulan berturut-turut demi mewujudkan <em>kemaslahatan</em> yaitu dapat mencegahnya melakukannya lagi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Para ahli fiqh tidak memperbolehkannya, karena terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala (Pembuat hukum Islam) tidak mengakui kemaslahatan tersebut, yaitu teks hadis Rasulullah saw di atas telah menentukan urutan sanksinya, yaitu pertama ialah membebaskan budak, meskipun puasa dua bulan mungkin akan lebih mampu mencegah melakukannya karena jauh lebih berat bagi pelanggarnya.<a name="_ednref7" href="#_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contoh lain ialah ketaatan secara berlebih-lebihan kepada agama Islam. Sikap seperti itu pernah dilakukan sebagian Sahabat Nabi di masanya, sampai-sampai mereka tidak makan untuk berpuasa secara terus menerus, tidak kawin, tidak tidur di malam hari untuk mengerjakan shalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Menurut akal, ketaatan secara berlebih-lebihan kepada agama Islam adalah maslahat (bermanfaat). Akan tetapi Rasulullah Muhammad saw tidak mau menerimanya. Buktinya sabda Rasulullah saw kepada mereka :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">لا رهبانية فى الاسلام</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Tidak ada sistem kependetaan dalam Islam.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Selanjutnya Rasulullah saw bersabda kepada para Sahabat yang melakukan perbuatan tersebut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0.2pt 10pt 49.65pt;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">أما والله إنى لأخشاكم لله وأتقاكم له , لكنى أصوم وأفطر , وأصلى وأرقد , وأتزوج النساء , فمن رغب عن سنتى فليس منى </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(رواه البخارى ومسلم والنسائى)</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Demi Allah, saya lebih takut kepada Allah dari pada kamu, saya lebih takwa kepada Allah dari pada kamu. Meskipun demikian saya puasa dan berbuka, shalat, tidur dan kawin dengan perempuan. Siapa yang tidak suka dengan cara yang saya lakukan berarti ia tidak termasuk umatku.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;text-indent:-13.65pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>iii.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Munasib (kemaslahatan) yang tidak diakui dan tidak ditolak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ada pula munasib yang tidak ditemukan dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala (Pembuat hukum) mengakuinya atau menolaknya, baik dalil berupa nash (teks) maupun ijma’ (konsensus) fuqaha’. Artinya tidak terdapat dalam Syariat Islam sesuatu yang menyetujuinya maupun yang menolaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Bagian yang ketiga inilah yang menjadi bidang perbedaan pendapat di kalangan fuqaha’ tentang apakah boleh menjadikannya sebagai ta’lil (faktor) penetapan hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Mazhab Maliki menyebut bagian ketiga ini dengan </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">مصالح مرسلة </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span> </span></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(mashalih mursalah)</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">. Imam Haramain dari pendukung mazhab Syafii menyebutnya </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">استدلال </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span> </span></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(Istidlal)</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">. Gazali dari pendukung mazhab Syafii juga menyebutnya </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">استصلاح </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span> </span></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(Istishlah)</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">. Demikianlah beberapa nama yang diberikan para faqih, namun hakikatnya satu yaitu munasabah (kemaslahatan) yang tidak ditemukan dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala (Pembuat hukum) mengakuinya atau menolaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;text-indent:-13.65pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>iv.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pembagian maslahah yang tidak diakui dan tidak ditolak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:49.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Untuk menentukan sikap, perlu diketahui lebih dahulu pembagian maslahah (manfaat) yang tidak ditemukan dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala (Pembuat hukum) mengakuinya atau menolaknya kepada tiga bagian. Pembagian ini semata-mata ditinjau dari segi kekuatan maslahah itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:68.6pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pertama, dharuriyyat</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">, (mesti) yaitu maslahah (manfaat) yang menjadi landasan kehidupan keagamaan dan dunia bagi manusia. Artinya, apabila maslahah (manfaat) ini tidak terwujud, akan menimbulkan ketidakstabilan kehidupan manusia di dunia, dan selanjutnya akan lenyap pula kebahagiaan hidup di akhirat. Kemaslahatan yang termasuk dalam kelompok dharuriyyat ada lima, yaitu melindungi kelestarian agama Islam, jiwa manusia, akal manusia, keturunan manusia dan harta kekayaan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:68.6pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Kedua, hajiyyat </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(penting), yaitu kemaslahatan-kemaslahatan yang bertujuan mempermudah pelaksanaan hukum Islam. Apabila kemaslahatan yang tergolong <em>hajiyyat </em>(penting) tidak diterapkan, maka orang-orang Islam akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan hukum-hukum Islam, meskipun tidak sampai mengganggu kehidupan itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:68.6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contohnya dalam bidang ibadat ialah Syariat Islam menetapkan hukum-hukum yang dapat memberikan keringanan (rukhshah) seperti memperbolehkan orang yang musafir dan lain-lain melakukan shalat qashar (menyingkatkan shalat dari empat rakaat menjadi dua rakaat) dan shalat jamak (menggabungkan waktu pelaksanaan dua shalat dalam satu waktu, seperti menggabungkan pelaksanaan waktu shalat Zhuhur dan ‘Ashar pada waktu Zhuhur atau waktu ‘Ashar).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:68.6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dalam bidang muamalat, Syariat Islam memperbolehkan bermacam-macam akad (kontrak), seperti jual beli, sewa menyewaf, upah mengupah, dan lain-lain. Diperbolehkannya bermacam-macam akad tersebut memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka, meskipun tidak mustahil dalam akad-akad (kontrak-kontrak) tersebut terkandung hal-hal yang mungkin akan mengecewakan seperti tipu daya. Namun seandainya akad-akad (kontrak-kontrak) tersebut dilarang, dengan alasan mungkin akan mengecewakan, tentu akan menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:68.6pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ketiga, tahsiniyyat</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"> (pelengkap), yaitu kemaslahatan-kemaslahatan yang bertujuan mewujudkan adat kebiasaan yang baik dan terpuji (moral), seperti bersuci ketika akan melakukan shalat, berpakaian yang baik, memakai harum-haruman, melarang makan makanan yang kotor, berlaku lemah lembut, memberikan perlindungan atas wanita dalam melaksanakan perkawinan dengan cara mewajibkan wali, dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:50.6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ketiga macam maslahah di atas, yaitu <em>dharuriyyat, hajiyyat </em>dan <em>tahsiniyyat</em>, merupakan titik tolak bagi <em>prinsip maslahat mursalah</em>. Karena sudah menjadi kepercayaan bahwa Allah Ta’ala dalam menetapkan hukum-hukum selalu mengindahkan kemaslahatan manusia. Perhatian Allah Ta’ala tersebut bukan sebagai kewajiban-Nya, akan tetapi sebagai karunia-Nya kepada manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:50.6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Atas dasar kepercayaan tersebut banyak fuqaha’ yang menggunakan <em>maslahah mursalah</em> sebagai salah satu metode penetapan hukum.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pengertian      Maslahah Mursalah<a name="_ednref8" href="#_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dari uraian di atas dapat simpulkan pengertian <em>maslahah mursalah</em> ialah <em>manfaat-manfaat yang seirama dengan tujuan Allah Ta’ala (Pembuat hukum), akan tetapi tidak terdapat dalil (argumen) khusus yang menjelaskan bahwa manfaat tersebut diakui atau tidak diakui oleh Allah Ta’ala (Pembuat hukum)</em>. Dengan mengaitkan hukum dengan manfaat tersebut, maka akan dapat diwujudkan kemaslahatan bagi manusia atau akan dapat dihindarkan keburukan dari manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Karena itu seorang mujtahid dapat menetapkan hukum suatu kejadian dengan qiyas. Artinya menyamakan hukumnya dengan hukum kejadian sebelumnya, karena persamaan illatnya. Ini dapat dilakukan mujtahid setelah mempelajari apakah dalam kejadian tersebut terdapat suatu illat yang telah menjadi dasar penetapan hukum kejadian sebelumnya. Apabila ia tidak dapat dipecahkan hukunya dengan qiyas, ia dapat menerapkan maslahah mursalah.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Landasan      Hukum Penerapan Maslahah Mursalah</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Penerapan asas maslahah mursalah dalam Islam mempunyai landasan yang kuat dari Islam itu sendiri, di antaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>a.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Penelitian membuktikan bahwa Allah Ta’ala dalam menetapkan hukum-hukum memperhatikan kemaslahatan manusia. Di antara buktinya ialah firman Allah Ta’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(الأنبياء : </span></strong><span style="font-size:7pt;line-height:115%;font-family:&#34;">107</span><span style="font-family:&#34;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Tiadalah Kami (Allah) mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(Al Anbiyaa’ : 107)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>b.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ijtihad para sahabat dan para fuqaha’ sesudahnya tentang banyak kejadian tidak hanya perpegang pada asas qiyas, tetapi juga memperhatikan asas kemaslahatan. Di antara contohnya ialah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.1pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Abu Bakar Ash Shiddiq menghimpun Al Quran dalam sebuah Mushhaf sesuai dengan saran Umar bin Khaththab. Umar bin Khaththab mengatakan : “Menhimpun Al Quran dalam satu Mushhaf adalah paling baik dan sesuai dengan kemaslahatan Islam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.1pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Umar bin Khaththab menjatuhkan hukuman mati atas sejumlah orang yang membunuh satu orang (pembunuhan masal), dengan alasan jika tidak dijatuhi sanksi qishash maka pembunuhan masal akan dijadikan alasan untuk menghindar dari qishash.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.1pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Para sahabat sepakat tentang mewajibkan tukang agar menjamin barang orang lain yang rusak ditangannya, demi mencegah timbulnya sikap memandang enteng hak milik orang lain yang sedang berada di tangan mereka.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Syarat-Syarat      Pelaksanaan Maslahah Mursalah<a name="_ednref9" href="#_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Namun tidak dapat diingkari asas maslahah mursalah adalah ibarat pisau bermata dua. Ia dapat membawa unsur positif bagi perkembangan hukum Islam, sehingga berbagai perkembangan baru dalam masyarakat, terutama dalam bidang muamalat dapat dipecahkan Islam dari segi hukumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Namun dipihak lain, maslahah dapat digunakan untuk menghancurkan Islam itu sendiri, dengan alasan menyesuaikan Islam dengan perkembangan zaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Sebab itu penerapan maslahah mursalah harus sesuai dengan tujuan syariat Islam. Tujuan tersebut dapat diketahui dari Al Quran, Sunnah dan Ijma’. Artinya, maslahah mursalah yang tidak sesuai adalah batal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dasar yang paling mendasar dari pandangan tersebut sangat sederhana, yaitu tugas asas tujuan hidup manusia, dalam pandangan Islam, adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Semua perbuatan yang melanggar ketakwaan berarti tidak dapat dibenarkan dalam Islam. Apabila seseorang menetapkan hukum sesuatu atas dasar maslahah, tentulah harus dalam kerangka ketakwaan tersebut.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Maslahah      Mursalah Dalam Muamalat<a name="_ednref10" href="#_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Seperti dalam fiqh Islam terdapat dua bidang hukum, yaitu ibadat dan muamalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pertama, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">ibadat, seperti shalat, puasa dan lain-lain. Akal manusia tidak dapat menyelami maknanya secara pasti. Karena itu qiyas dan maslahah mursalah tidak dapat diterapkan dalam bidang ibadat. Artinya, manusia tidak dapat mengadakan pembaruan dalam bidang ibadat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Kedua, muamalat, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">seperti akad (kontrak) jual beli. Bidang muamalat merupakan bidang yang luas bagi ijtihad, baik melalui ijtihad dengan menggunakan metode qiyas atau maslahah mursalah atau lainnya. Namun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai kemungkinan menjadikan maslahah mursalah sebagai dalil tersendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pendapat pertama, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">tidak boleh menggunakan maslahah mursalah sebagai metode untuk menetapkan hukum suatu kejadian. Pendapat ini didukung mayoritas fuqaha’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pendapat kedua, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">boleh secara mutlak. Pendapat ini didukung antara lain oleh Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, bahkan ia dipandang pionir dalam penerapan maslahat. Malik menegaskan bahwa maslahat dapat berpijak pada nash (teks) Al Quran dan Sunnah atau pengertian umum Al Quran dan Sunnah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contohnya ialah firman Allah Ta’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">وما جعل عليكم في الدين من حرج </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(الحج : </span></strong><span style="font-size:8pt;line-height:115%;font-family:&#34;">78</span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(Al Hajj : 78)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ahmad bin Hambal (pendiri mazhab Hambali) menerapkan pula maslahat mursalah, khususnya dalam politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pendapat ketiga, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">boleh jika maslahatnya memenuhi tiga syarat, yaitu mencapai tingkat <em>dharury, pasti </em>dan <em>global. </em>Pendapat ini didukung antara lain oleh Imam Gazali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Syarat pertama, dharury</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">. Hal-hal yang tergolong dharury ialah termasuk salah satu dari lima dharuriyyah yaitu melindungi agama Islam, melindungi jiwa, melindungi akal, melindungi keturunan, dan melindungi harta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Apabila maslahat yang tidak terdapat nash yang mendukungnya dan menolaknya tidak termasuk salah satu dari lima dharuriyyah, maka tidak dapat dijadikan landasan penetapan hukum. Sebab itu pendukung mazhab yang ketiga ini tidak mendukung <em>maslahah hajiyyah</em> (penting) dan <em>tahsiniyyah (pelengkap) </em>semata-mata untuk dijadikan dasar penetapan hukum, kecuali didukung oleh dasar dari Syariat.<a name="_ednref11" href="#_edn11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Syarat kedua</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">, ialah penerapan maslahat dalam hal-hal tersebut pasti akan tercapai kemaslahatan apabila diterapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Syarat ketiga</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">, ialah umum, yaitu maslahat yang akan memberikan manfaat umum bagi kaum muslimin.<a name="_ednref12" href="#_edn12"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Di antara pendukung pandangan tersebut ialah mazhab Syafii. Gazali, misalnya, salah seorang pendukung mazhab Syafii, mendukung menjadikan <em>maslahah mursalah</em> sebagai metode penetapan hukum, selama maslahatnya memenuhi tiga syarat di atas, yaitu <em>dharury, pasti </em>dan <em>global</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contohnya seperti orang-orang kafir menduduki negeri orang-orang Islam dan menawan orang-orang Islam untuk dijadikan sebagai perisai (pelindung). Sehingga pasukan Islam tidak dapat menyerang pasukan non muslim tanpa mengorbankan orang-orang Islam yang dijadikan perisai (pelindung) tersebut. Tetapi jika pasukan Islam memutuskan tidak melakukan serangan dengan alasan serangan itu akan mengorbankan orang-orang Islam sendiri, maka pasukan non muslim tersebut akan menyerang dan membunuh kaum muslimin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Di sini pasukan Islam menghadapi dua hal :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pertama : membunuh </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">orang-orang Islam yang dijadikan perisai seperti itu. Tidak ada dalil dalam Al Quran dan Sunnah yang memperbolehkan membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Kedua, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">tidak terdapat pula dalam Al Quran dan Sunnah nash (teks) yang tidak mengizinkan orang Islam membunuh orang-orang Islam yang dijadikan perisai (pelindung) seperti itu, demi mewujudkan kepentingan kaum muslimin sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Jika pasukan Islam tidak menemukan jalan lain untuk menyelamatkan orang-orang Islam yang dijadikan perisai tersebut dan tidak ada jaln lain untuk menyelamatkan negeri kaum muslimin dari serangan pasukan non muslim, maka pasukan Islam dapat melakukan suatu tindakan dengan pertimbangan bahwa melindungi masyarakat Islam adalah lebih sesuai dengan tujuan Syariat Islam ketimbang melindungi nyawa satu orang saja. Karena tujuan Syariat Islam ialah mengurangi angka pembunuhan.<a name="_ednref13" href="#_edn13"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dasar pertimbangan tersebut, pada hakikatnya, adalah penerapan asas darurat.<a name="_ednref14" href="#_edn14"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contoh lain yang dikemukakan Gazali ialah seperti pemerintah tidak mempunyai uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan militer. Dalam hal ini ada dua kemungkinan, yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pertama, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">pemerintah memberikan kesempatan kepada pasukan Islam mencari nafkah sendiri. Jika kemungkinan pertama ini diterapkan, maka dikhawatirkan pasukan Islam akan lemah, karena sibuk dengan pekerjaan mencari nafkah, sehingga menjadi peluang bagi orang0orang tertentu mengobarkan kerusuhan dalam negeri atau bagi pasukan lain menyerang negeri Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Kedua, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">pemerintah mewajibkan pajak atas penduduk yang punya, dalam batas keperluan pasukan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dalam Al Quran dan Sunnah tidak terdapat nash (teks) khusus yang mengatur cara mendapatkan dana pasukan Islam ketika pemerintah tidak mempunyai dana khusus buat pasukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Namun yang lebih sesuai dengan tujuan Islam ialah pemerintah mewajibkan pajak atas penduduk yang punya dalam batas tertentu untuk memenuhi keperluan pasukan Islam. Pertimbangannya ialah apabila terdapat dua hal yang sama-sama mengandung keburukan, maka Syariat Islam menerapkan pertimbangan <em>“menerapkan salah satu dari dua keburukan, dengan cara memilih keburukan yang paling ringan.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dasar pertimbangan tersebut ialah <em>memilih keburukan yang paling ringan.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">‘Urf (Adat)<a name="_ednref15" href="#_edn15"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[15]</span></span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pengertian</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">‘Urf ialah kebiasaan masyarakat, baik perbuatan maupun ucapan (bahasa). Contoh ‘urf perbuatan ialah kebiasaan masyarakat melakukan jual beli mu’athah yaitu kontrak jual beli tanpa ijab qabul dengan lisan, tetapi langsung saling memberi. Artinya, penjual memberikan barang yang dijual kepada pembeli dan pembeli menyerahkan uang kepada penjual. Ini disebut mu’athah (saling memberi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contoh ‘urf ucapan (bahasa) dalam masyarakat Arab ialah tidak menggunakan kata “lahm” (daging) pada ikan.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Macam-Macam      ‘Urf (Adat)</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Telah dijelaskan di atas pembagian ‘urf (adat) kepada perbuatan dan ucapan. ‘Urf (adat) perbuatan dan ucapan terbagi kepada, yaitu ‘urf (adat) umum dan ‘urf (adat) khusus (terbatas).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">‘Urf (adat) umum ialah yang berlaku pada kebanyakan penduduk suatu negeri dalam suatu waktu, seperti ‘urf (adat) melakukan </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">عقد الاستصناع </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span> </span>(akad istishna’), menyewa kamar mandi tanpa memperhitungkan lama waktunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Sedangkan ‘urf (adat) khusus (terbatas) ialah yang berlaku pada kelompok tertentu dari penduduk suatu negeri. Dari segi lain ‘urf (adat) terbagi kepada ‘urf (adat) yang sohih (benar) dan ‘urf (adat) tidak sohih (tidak benar).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">‘urf (adat) yang sohih ialah kebiasaan masyarakat yang tidak mengharamkan apa yang menurut Islam adalah halal atau menghalalkan apa yang menurut Islam adalah haram. Contohnya ‘urf (adat) masyarakat memberikan ‘urbun (uang muka) dalam akad istishna’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">‘urf (adat) yang tidak sohih ialah kebiasaan yang menghalalkan apa yang menurut Islam adalah haram atau mengharamkan apa yang menurut Islam adalah halal, seperti kebiasaan makan riba, menyajikan minuman memabukkan dalam jamuan tertentu, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Para fuqaha’ sepakat memandang ‘urf (adat) yang sahih, berlaku umum dan secara terus menerus sejak masa Sahabat dan sesudah mereka, tidak menyalahi nash (teks) Al Quran dan Sunnah serta prinsip asasi Syariat Islam asalah berlaku sebagai sumber hukum. Contohnya seperti akad istishna’, ijarah (sewa menyewa), salam, jual beli dengan mu’athah, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dari segi lain, para fuqaha’ sepakat memandang ‘urf (adat) yang tidak sahih tidak dapat dijadikan sumber hukum, seperti riba, minum khamar, judi, dan lain sebagainya.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Landasan      Hukum Penerapan ‘Urf (Adat)</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Penerapan ‘urf (adat) dalam Islam mempunyai landasan yang kuat dari Islam itu sendiri. Ada dua dasar yang disebut-sebut fuqaha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Firman Allah Ta’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(الأعراف : </span></strong><span style="font-size:8pt;line-height:115%;font-family:&#34;">199</span><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(Al A’raaf : 199)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Penjelasan seorang sahabat bernama Abdullah bin Mas’ud r.a.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">ما رأه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن , وما رأه المسلمون سينا فهو عند الله سىء</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik juga di sisi Allah, dan apa yang dipandang buruk oleh orang-orang Islam, maka buruk juga di sisi Allah.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Sesuai dengan dasar di atas maka para fuqaha, terutama pendukung mazhab Maliki dan Hambali, memandang ‘urf (adat) sebagai salah satu sumber penetapan hukum. Pandangan ini mereka simpulkan dalam sebuah asas yang berbunyi :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">العادة محكمة</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Adat kebiasaan menjadi dasar penetapan hukum.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pandangan ini mereka ungkapkan pula dalam asas bahwa <em>“apa yang sudah berlaku sebagai adat kebiasaan adalah sama dengan yang ditetapkan oleh dalil (argumen) dari Syariat Islam.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Asas-asas tersebut mengungkapkan betapa kuatnya pengaruh ‘urf (adat) dalam hukum Islam.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">‘Urf      (adat) Dalam Muamalat</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">‘Urf (adat) sangat berpengaruh dalam muamalat. Di antara contohnya sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Istishna adalah akad yang boleh dilakukan dalam ‘urf (adat), karena masyarakat memerlukannya, meskipun mengandung unsur menjual sesuatu yang belum ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Mazhab Maliki dan sebagian pendukung mazhab Hanafi memperbolehkan menjual buah-buahan yang berada di pohon, apabila sebagian buahnya saja yang telah tampak baik seperti buah semangka, terung, anggur dam sebagainya, kaena telah menjadi ‘urf (adat) masyarakat melakukannya karena darurat, meskipun sebagian buahnya belum ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Boleh membeli barang seperti jam, radio, mesin cuci, kulkas, dengan garansi hingga masa tertentu. Dasarnya ialah ‘urf (adat).</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Perubahan      Hukum Karena Perubahahn ‘Urf (Adat)</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Seperti kita ketahui ‘urf (adat) dapat berubah karena perubahan tempat dan masa. Karena itu hukum yang berlandasan ‘urf (adat) akan ikut berubah juga dengan terjadinya perubahan ‘urf (adat).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pandangan tersebut telah dituangkan para fuqaha’ dalam asas “Perubahan hukum disebabkan perubahan ‘urf (adat).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Di antara contohnya ialah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Fuqaha’ dahulu mengharamkan seseorang mengambil upah karena melakukan perbuatan-perbuatan ketaatan seperti mengajarkan Al Quran, menjadi imam shalat, adzan. Namun para fuqaha’ mutakhir memperbolehkannya, karena perubahan zaman, terputusnya pemberian kepada para guru dan petugas-petugas syiar Islam dari Baitulmal. Seandainya mereka harus berusaha mencari nafkah seperti bertani, dagang atau lainnya, tentu tidak ada lagi orang yang melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, hal mana mengakibatkan tidak adanya orang yang pandai membaca Al Quran dan lenyapnya syiar-syiar Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Menurut prinsip fiqh, pekerja yang mengambil upah karena melakukan kepentingan orang banyak seperti tukang jahit, adalah amanat, artinya ia tidak wajib mengganti hak milik orang yang mengupahkan menjahit pakaiannya padanya, kecuali karena kesalahannya. Tetapi kemudian sering terjadi kerusakan barang di tangan pekerja. Karena itu para fuqaha’ menetapkan ia wajib memberi ganti rugi untuk melindungi harta orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Istishhab<a name="_ednref16" href="#_edn16"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[16]</span></span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pengertian</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pengertian Istishhab ialah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Menetapkan bahwa sesuatu masih tetap seperti semula pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang. Penetapan tersebut berpijak pada kenyataan sesuatu tersebut <em>benar-benar ada </em>pada masa sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Atau menetapkan bahwa sesuatu masih tetap seperti semula pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang. Penetapan tersebut berpijak pada kenyataan sesuatu tersebut <em>benar-benar tidak ada </em>pada masa sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ringkasnya, istishhab ialah melanjutkan kenyataan sebelumnya, baik ada atau tidak ada.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Macam-Macam      Istishhab</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Istishhab terbagi kepada beberapa macam, di antaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Asas : “Apa yang terdapat di bumi halal dimanfaatkan.” Asas ini tetap berlaku sampai terdapat bukti yang menunjukkan ia haram. Dasarnya ialah firman Allah Ta’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">هو الذى خلق لكم مافى الأرض جميعا </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(البقرة : </span></strong><span style="font-size:8pt;line-height:115%;font-family:&#34;">29</span><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Dialah Allah, yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Allah Ta’ala memberitahukan bahwa semua makhluk di bumi adalah disediakan untuk dimanfaatkan manusia. Artinya, Syariat Islam mengizinkan manusia memanfaatkan semua makhluk di bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Asas tersebut diungkapkan para fuqaha’ dalam sebuah asas yang singkat yaitu <em>“Hukum memanfaatkan semua kekayaan di bumi adalah boleh, kecuali ada dalil (argumen) yang menunjukkan tidak boleh.” </em>Asas tersebut dapat diterapkan dengan mudah untuk mengetahui hukum banyak hal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Misalnya A ingin mengetahui hukum menjual kulit buaya, bakso, dan mengambil kayu di hutan. Ia dapat mengetahuhinya melalui asas tersebut, yaitu hukum dasar menjual kulit buaya, makan bakso, dan mengambil kayu di hutan adalah halal. Tinggal lagi ia masih harus meneliti apakah dalam sumber-sumber hukum Islam terdapat dalil (argumen) yang menunjukkannya haram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dalam penelitian tersebut perlu dipelajari berbagai segi. Misalnya, apakah Islam mengizinkan menjual kulit hewan bangkai? Apakah kulitnya harus disamak? Apakah kulit buaya boleh dibuat pakaian atau tas? Semua itu tidak lepas dari penilaian hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Asas : “Apa yang ada dipandang tetap ada.” Asas ini tetap berlaku sampai ada bukti yang menunjukkan ia telah tiada. Jadi apa yang ada harus dipandang seperti semula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Misalnya A membeli sebuah rumah melalui akad jual beli yang sah. Hukum memandang rumah tersebut tetap milik A. Kepemilikannya tersebut tetap berlaku sampai terdapat bukti ia tidak memilikinya lagi. Begitu juga jika A merusak barang B. Karena itu A tetap memikul kewajiban menggantinya sampai ada bukti A telah melaksanakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Asas : “Setiap orang tidak bertanggung jawab.” Asas ini tetap berlaku pada setiap orang, kecuali ada bukti yang menunjukkan ia bertanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Misalnya A melaporkan bahwa B berhutang kepadanya. Sesuai dengan asas tersebut maka A harus membuktikan perkataannya. Adapun B tidak perlu bersusah payah untuk membuktikan bahwa ia tidak mempunyai hutang kepada A. Apabila A tidak dapat membuktikannya, maka hukum tidak dapat membebankan tanggung jawab atas B, karena pada prinsipnya B bebas dari tanggung jawab. Seandainya B diharuskan membuktikan tidak berhutang, maka akan membuka peluang kepada setiap orang untuk melemparkan tuduhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ketiga macam istishhab tersebut memberikan solusi yang mudah diterapkan bagi penyelesaian banyak persoalan muamalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Adz Dzari’ah</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Pengertian      dan Dasar Hukum Adz Dzari’ah</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Arti “adz dzari’ah” ialah jalan (wasilah) menuju sesuatu. Jalan yang dimaksud di sini ialah jalan menuju hukum syariat Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Jalan ada dua kemungkinan, yaitu ditutup atau dibuka. Karena itu Al Qarafi, salah seorang faqih terkemuka dari pendukung mazhab Maliki, mengatakan hukum jalan (wasilah) itu bermacam-macam. Ada yang wajib ditutup, seperti jalan menuju yang haram. Ada pula yang wajib dibuka seperti jalan menuju yang wajib.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ringkasnya, dalam Syariat Islam terdapat dua segi, yaitu <em>tujuan </em>dan <em>wasilah </em>menuju tujuan. Hukum wasilah mengikut hukum tujuan. Apabila tujuan wajib, maka hukum wasilah menujunya wajib pula. Apabila hukum tujuan haram, maka hukum wasilah menujunya haram pula. Demikian juga hukum-hukum yang lain, baik makruh, sunnat dan mubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dasar kesimpulan tersebut ialah penelitian. Karena terbukti apabila Allah Ta’ala melarang sesuatu Ia juga melarang semua yang akan menyampaikan kepadanya. Sebaliknya apabila Allah Ta’ala menyuruh sesuatu Ia juga menyuruh semua yang akan menyampaikan kepadanya.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Motivasi      dan Tujuan</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dari segi lain para fuqaha’ menganalisa bahwa perbuatan manusia seperti akad (transaksi) mengandung dua segi, yaitu <em>segi pertama</em>, ialah motivasi yang mendorongnya berbuat, dan <em>segi kedua</em>, ialah tujuan dan akibat yang akan timbul dari perbuatannya. Jika tujuan dan akibatnya positif, maka Syariat memandang semua wasilah untuk mewujudkannya adalah baik dan perlu. Sebaliknya jika tujuan dan akibatnya negatif, maka Syariat memandang semua wasilah untuk mewujudkannya adalah tidak baik dan tidak perlu, meskipun didorong oleh motivasi yang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Berdasarkan pandangan di atas maka Dr. Wahbah Zuhaily menyimpulkan bahwa umat Islam wajib mempelajari berbagai macam industri, karena industri merupakan jalan untuk mewujudkan kepantingan umum yang menjadi landasan pembangunan. Demikianlah contoh metode yang disebut <em>membuka jalan </em>untuk mencapai tujuan yang positif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Adapun contoh <em>menutup jalan </em>untuk mencegah keburukan antara lain pendapat Imam Malik, Syafii, dan Ahmad bin Hanbal tentang hukum menjual senjata kepada musuh ketika musuh berhasil mengobarkan kerusuhan dalam masyarakat. Menurut mereka hukum menjual senjata kepada musuh dalam keadaan seperti tersebut adalah haram dan batal, artinya kontraknya tidak sah, karena mengandung unsur membantu musuh. Dasar pendapat tersebut ialah menetapkan hukum karena memandang kepada akibat yang akan timbul dari perbuatan, yaitu merugikan umat Islam sendiri.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Wasilah      Ditinjau dari Segi Motivasi dan Akibatnya</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dari segi lain wasilah dapat ditinjau lebih umum meliputi dua segi, yaitu <em>pertama</em>, dari segi motivasinya dan <em>kedua</em>, dari segi akibat yang akan timbul dari perbuatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Wasilah ditinjau dari segi motivasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Contohnya ialah seperti seseorang mengadakan akad (transaksi) jual beli. Seperti kita ketahui bahwa akibat hukum dari jual beli ialah perpindahan hak milik pada barang yang dijual dari penjual kepada pembeli dan perpindahan hak milik pada uang yang dibayarkan dari pembeli kepada penjual. Tetapi ia tidak bermaksud melakukannya untuk tujuan tersebut, bahkan sebagai cara mencari keuntungan melalui riba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Jelas pelaku akad seperti tersebut berdosa dan akadnya tidak halal. Hukum ini berlaku antara pelaku dengan Allah Ta’ala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span>o<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Wasilah ditinjau dari segi akibatnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dari segi lain, wasilah dapat ditinjau dari segi akibatnya, terlepas dari motivasi dan niat melakukannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Jika wasilah tersebut akan melahirkan kemaslahatan (kemanfaatan) bagi manusia, berarti positif dan diperlukan. Tetapi jika sebaliknya akan menimbulkan sesuatu yang terlarang, berarti negatif dan terlarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Islam tidak selalu menilai suatu perbuatan dari segi motivasinya, karena terbukti Al Quran memberikan contoh sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله , فيسبوا الله عدوا بغير علم </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">(الأنعام : </span></strong><span style="font-size:8pt;line-height:115%;font-family:&#34;">108</span><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">“Janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Dari segi motivasi, orang Islam yang mencerca Tuhan non muslim adalah baik, karena motivasinya baik yaitu keikhlasannya kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi ayat ini menjelaskan bahwa orang Islam yang secara ikhlas mencerca Tuhan non muslim dinilai melakukan suatu keburukan, karena akan memancing amarah non muslim, dan selanjutnya akan terjadi perang cerca mencerca Tuhan. Situasi tersebut tidak menguntungkan kaum muslimin. Ini membuktikan bahwa Islam menetapkan hukum suatu perbuatan dengan memperhatikan akibatnya pula, bukan semata-mata motivasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Ada orang yang melakukan sesuatu yang mubah (tidak terlarang), tetapi mengandung tujuan yang buruk. Tentu ia berdosa. Contohnya ialah seperti pedagang sengaja menurunkan harga barangnya untuk menimpakan kerugian atas pedagang saingannya. Menurunkan harga adalah perbuatan yang mubah (tidak terlarang). Tetapi mengandung unsur negatif yaitu merugikan pedagang lain. Meskipun demikian tidak dapat dikatakan akad penjualannya dengan harga yang murah tersebut batal. Motivasinya adalah buruk. Namun cara tersebut bermanfaat pula bagi masyarakat, karena harganya murah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Suatu ketika Umar bin Khaththab r.a.melihat Hathib bin Abu Balta’ah menjual kismis di pasar dengan harga lebih murah. Umar bin Khaththab memerintahkan kepadanya agar menaikkan harga kismisnya atau pergi dari pasar.<a name="_ednref17" href="#_edn17"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Demikianlah sebagian sumber fiqh. Di samping itu terdapat sumber-sumber lain yang diterapkan para mujtahid dalam menggali hukum Syariat.</span></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn1" href="#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> Ibnu Al Qayyim, <em>I’lam Al Muwaqqi’in</em>, (Kairo : Dar Al Kutub Al Haditsah), I, hal. 83</span></p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> Dr. Muhammad Salam Madkur, <em>Manahij Al Ijtihad Fi Al Islam</em>, (Kuwait : Univ. Kuwait), hal. 95-96</span></p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid.</em></span></p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn4" href="#_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid.</em></span><em><span style="font-family:&#34;"></span></em></p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn5" href="#_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> Dr. Wahbah Zuhaily, <em>Ushulul Al Fiqh Al Islamy</em>, (Damaskus : Dar Al Fikr), II, hal. 757</span></p>
</div>
<div id="edn6">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn6" href="#_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid.,</em> hal. 752</span></p>
</div>
<div id="edn7">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn7" href="#_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid.,</em> hal. 753</span></p>
</div>
<div id="edn8">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn8" href="#_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid., </em>hal. 757</span><span style="font-family:&#34;"></span></p>
</div>
<div id="edn9">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn9" href="#_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid., </em>hal. 765</span><em><span style="font-family:&#34;"></span></em></p>
</div>
<div id="edn10">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn10" href="#_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid., </em>hal. 757</span><span style="font-family:&#34;"></span></p>
</div>
<div id="edn11">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn11" href="#_ednref11"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid., </em>hal. 756</span></p>
</div>
<div id="edn12">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn12" href="#_ednref12"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> Gazali, <em>Al Mustashfa</em>, (Kairo), I, hal. 140-141</span></p>
</div>
<div id="edn13">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn13" href="#_ednref13"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> Dr. Wahbah Zuhaily, <em>op.cit., </em>hal. 759</span><span style="font-family:&#34;"></span></p>
</div>
<div id="edn14">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn14" href="#_ednref14"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid., </em>hal. 760</span><span style="font-family:&#34;"></span></p>
</div>
<div id="edn15">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn15" href="#_ednref15"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Ibid., </em>hal. 828-858</span><span style="font-family:&#34;"></span></p>
</div>
<div id="edn16">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn16" href="#_ednref16"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> Dr. Wahbah Zuhaily, <em>op.cit., </em>hal. 859-872</span><span style="font-family:&#34;"></span></p>
</div>
<div id="edn17">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn17" href="#_ednref17"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"> <em>Al Muntaqa ‘Ala Al Muwaththa’ </em>(), V, hal. 17</span><span style="font-family:&#34;"></span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Om dronningen og forskel på folk]]></title>
<link>http://stokbro.wordpress.com/?p=682</link>
<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 21:38:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>stokbro</dc:creator>
<guid>http://stokbro.wordpress.com/?p=682</guid>
<description><![CDATA[Dronningen skriver (igen med sviende selvfølgelighed):
Værdi er en rettesnor hen mod noget absolut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Værdier, økonomier, holdkæftbolcher og sniksnak" href="http://eksistens.wordpress.com/2008/08/24/v%c3%a6rdier-%c3%b8konomier-holdk%c3%a6ftbolcher-og-sniksnak/" target="_blank">Dronningen</a> skriver (igen med sviende selvfølgelighed):</p>
<blockquote><p>Værdi er en rettesnor hen mod noget absolut. Af absolutte absolutter kan jeg ikke nævne én eneste. Alle mine værdier er relative. Hver og en.</p>
<p>Det er min overbevisning, at sådan forholder det sig med alle værdier.</p>
<p>Det er nok derfor, jeg ikke kan lide Koranen. Men jeg tillægger den alligevel STOR værdi. Politisk betragtet den største i og med, den ideologi, der er beskrevet i den <span style="text-decoration:line-through;">lorte</span>bog er et nok så væsentligt udgangspunkt for den såkaldte værdidebat...</p></blockquote>
<p>"Alle mine værdier er relative" og derfra går hun over til at sige, at "Det er min overbevisning, at sådan forholder det sig med alle værdier." Udgangspunktet er altså et partikulært, absolut udsagn (mine værdier er relative), hvorfra der kobles til et almenniveau (alle værdier er relative), der bygger på en formening, hvorfra der sluttes til en almen, absolut dom (Koranen er en <span style="text-decoration:line-through;">lorte</span>bog). Dronningen går altså fra et relativt personligt synspunkt til en absolut almen dom.</p>
<p>For lidt over tre år siden <a title="Ateister er miljøsvin, siger Jakob Wolf" href="http://www.groveloejer.dk/sidsels/2005/03/ateister_er_miljoesvin_siger_j.html" target="_blank">lød det anderledes</a> fra Dronningen:</p>
<blockquote><p>Jeg er klar over, at visse religiøse mennesker/grupper bruger religion til at årsagsforklare eksistentielle forhold - men at det skulle retfærdiggøre andres ret til at kalde dem for klaphatte eller lignende [f.eks. Koranen er en <span style="text-decoration:line-through;">lorte</span>bog?], det peger da vist mere på bedrevidenhed og intolerance end et egentligt sagsforhold.</p>
<p>En religiøs tankegang udelukker på ingen måde en fornuftsbetonet tankegang. Disse kan sagtens eksistere som komplimentere størrelser. Se på de faktiske sagsforhold og overvej om religionen i disse menneskers liv måske fungerer som mediator for håb, social konstruktion (?) og trøst fremfor iboende mulighed til at slå fornuften fra.</p></blockquote>
<p>Kunne Koranen på lignende vis ikke også for bare én enkelt muslim "fungerer som mediator for håb, social konstruktion (?) og trøst fremfor iboende mulighed til at slå fornuften fra"? Og kan den det, så er den vel ikke <em>nødvendigvis</em> en <span style="text-decoration:line-through;">lorte</span>bog? Kan man ikke også med nogenlunde retfærdighed sige, at det ikke er Koranen, der slår ihjel, men derimod nogle enkeltindivider?</p>
<p>Men <em>hvis</em> Koranen er en <span style="text-decoration:line-through;">lorte</span>bog, har vi i hvert fald <em>et</em> absolut i Dronningens univers, der kan den så stå sammen med Heidegger (eller er det bare §§ 31-32?), der synes at indtage et universalmiddel mod al verdens dårligdom. Det sørgelige er, at Eksistens efterhånden er blevet udvandet til nogle enkelte løsninger spædet op med en yderst manipulativ retorik og en fuldstændig mangel på <em>forståelse</em> for visse andre perspektiver (gerne <a title="Dronningen, (drabanten,) afgrunden" href="http://stokbro.wordpress.com/2008/07/23/dronningen-drabanten-afgrunden/" target="_blank">dem</a>, der yder en reel modstand).</p>
<p>Kan man tale om <em>det skrøbeligt absolutte</em> ovre på eksistensen? Nå, jeg hæfter mig bare ved, at Dronningen 15. juli ovre på Oplysningskritik skrev følgende:</p>
<blockquote><p>en (universitetsuddannet) kommentator skrev på et tidspunkt på min blog "Jeg tror ikke på provokationens aprioriske værdi"</p>
<p>At skrive sådan er helt ude i hampen og et voksens (well...) eksempel på dit udgangspunkt, alt er relativisme. JEG tror ikke på, ergo virker det ikke, og det har jeg RET til at mene.</p></blockquote>
<p>Men i dag er det langt fra ude i hampen at tale om overbevisning (og <a title="Kulturformidling uden ansvar" href="http://eksistens.wordpress.com/2008/04/14/kulturformidling-uden-ansvar/" target="_blank">tidligere</a> om tro), men sådan er der forskel på folk; "det peger da vist mere på bedrevidenhed og intolerance end et egentligt sagsforhold."</p>
<p>Min pointe er, at det Dronningen kritiserer andre for, gør hun selv med største selvfølgelighed og uden at kunne/ville drage en parallel mellem de to udgangspunkter (dvs. mellem kritikken og egne indlæg). Dermed mener jeg også, at den u<a href="http://eksistens.wordpress.com/?s=redelighed" target="_blank">redelighed</a>, hun i hvert fald tidligere gjorde sig til talsmand imod, ligger hun selv under for.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Nlearning]]></title>
<link>http://nlearning.wordpress.com/?p=63</link>
<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 16:25:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>nlearning</dc:creator>
<guid>http://nlearning.wordpress.com/?p=63</guid>
<description><![CDATA[Di nlearning.wordpress.com anda bisa mengetahui banyak hal seputar pendidikan,inovasi,dll..
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Di nlearning.wordpress.com anda bisa mengetahui banyak hal seputar pendidikan,inovasi,dll..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Social Interaction In Online Learning]]></title>
<link>http://thinktep.wordpress.com/?p=23</link>
<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 15:27:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>thinktep</dc:creator>
<guid>http://thinktep.wordpress.com/?p=23</guid>
<description><![CDATA[
Interaksi Sosial dalam Pembelajaran Online
Dunia pendidikan dan pelatihan secara keseluruhan saat i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;"><img class="alignnone size-medium wp-image-24" src="http://thinktep.wordpress.com/files/2008/08/internet_0011.jpg?w=300" alt="" width="300" height="243" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;"><strong>Interaksi Sosial dalam Pembelajaran Online</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Dunia pendidikan dan pelatihan secara keseluruhan saat ini telah diperkaya dengan adanya media </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;"> atau internet. Hal ini tampak dengan bertambahnya jumlah online</span><em><span style="font-size:12pt;">-learning</span></em><span style="font-size:12pt;"> yang ada di Indonesia maupun di luar negeri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Pembelajaran </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;"> telah berkembang dan meningkat pada pendidikan sekolah dan pelatihan-pelatihan. Pebelajar yang mencari pembelajaran </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;"> untuk memenuhi kebutuhan dan keterampilannya pun semakin meningkat. Meskipun dalam pembelajaran </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;">, pada prakteknya pebelajar sering merasa terisolasi dan tidak dapat berinteraksi dengan pebelajar lain untuk men-konstruk pengetahuan yang diperolehnya. Dan banyak teori serta hasil penelitian yang menyebutkan bahwa kurangnya interaksi dalam pembelajaran </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;">  dapat menyebabkan pebelajar merasa tidak terikat dalam proses belajar yang pada akhirnya  mempengaruhi hasil belajar mereka. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Ada apa sebenarnya dengan interaksi?. Interaksi sosial akan selalu menggambarkan karakteristik pendidikan, pelatihan, dan pembelajaran. Dalam hal ini belajar ditandai dengan pertukaran ide-ide, pemikiran-pemikiran, dan perasaan-perasaan diantara manusia, dan akan (yang pasti)menghasilkan cara baru dalam memandang dunia ini atau paling tidak berpengaruh pada cara dalam bertindak (way of thinking and way of life). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Bagaimana dengan para perancang pendidikan online?. Para perancang pendidikan dan pembelajar yang memutuskan untuk beralih ke lingkungan pembelajaran </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;"> mau tidak mau akan menghadapi tantangan sekaligus peluang. Tantangannya berupa kenyataan bahwa jumlah pebelajar yang memanfaatkan media </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;"> sangat besar (bahkan tidak dapat dibendung) dan berasal dari  latar belakang pendidikan, profesional, dan kemampuan yang amat sangat bervariasi. Sedangkan peluangnya berupa sebuah kesempatan untuk berkreasi seluas-luasnya dalam mengeksplorasi waktu, ruang dan bahan. Tantangan dan peluang ini dapat dijadikan suatu nilai tambah bagi para pembelajar (setuju khan? harus!). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Nah, sekarang homework yang harus dikerjakan adalah, apakah yang dapat dilakukan untuk dapat membantu pembelajar dan pebelajar yang memanfaatkan media online dalam pembelajaran?.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Dalam bahasan pendek ini kita akan menyoroti pada sisi interaksi sosialnya saja. Meskipun saat ini studi yang mengembangkan interaksi sosial dalam pembelajaran </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;"> masih sangat kurang, yang banyak dikerjakan adalah membangun dan membangun online learning. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Sebagai pemikiran dan gagasan awal adalah para Pembelajar baiknya menyediakan kesempatan yang lebih dalam wacana sosial emosional dan pembetukan jaringan diantara pebelajar sehingga dapat mengeksplorasi perkembangan interaksi sosial dalam komunitas pembelajaran </span><em><span style="font-size:12pt;">online</span></em><span style="font-size:12pt;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:17.75pt;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Cambria;"><span style="font-size:12pt;">Gagasan selanjutnya adalah agar para Pembelajar mempertimbangkan dan memaknai apa saja landasan teori  yang mendasarinya. Karena (seperti  yang kita semua telah ketahui dan tidak bermaksud menggurui) Mempertimbangkan teori-teori yang mendasari proses pembelajaran adalah sanga